Postingan

Rumah lama yang tak lagi sama

Aku pulang. Pulang ke rumah lama. Namun isinya tak lagi sama. Aku pulang untuk melanjutkan masa depanku yang sedikit aku tinggalkan di rumah itu. Namun ternyata bukan hanya masa depan yang ku temui, namun rasa bersalah juga. Aku meninggalkan rumah dengan meninggalkan banyak orang yg aku sayangi dan menyayangiku, sialnya saat aku pergi aku hanya memikirkan diri sendiri, aku ingin keluar, aku ingin menemui tempat yang lebih besar, yang lebih bersih, yang lebih waras, dan yang lebih banyak menyayangiku. Namun ternyata saat aku pergi dan menemui rumah baru, aku memang mendapatkan semuanya, tapi jam tidurku, tubuhku mungkin tidak baik-baik saja. Lain dari itu, masa depan yang aku impikan sedikit terhambat jika aku bertahan disana, mungkin bisa saja bertahan, sebab doaku yang kupinta sebelumnya hampir semuanya terjawab disana. Namun kembali lagi, ego. Ego ku besar. Aku lelah, aku ingin keluar dari rumah baru dengan alasan yang sama saat aku keluar dari rumah lama, aku ingin melanjutkan masa ...

(Ingin) Kembali Bersama.

 Selamat malam, Setelah pertemuan itu, aku berangan bahwa kami akan kembali bersama. Beberapa kali aku bayangkan bahagianya aku jika kami memiliki lebih banyak waktu bersama. Banyak tempat yang ingin aku datangi bersamanya, banyak kuliner yg ingin aku cicipi dengan dia, serta hal hal sederhana lainnya. Rasanya tidak adil jika harus menunggu lama namun pertemuan kami begitu singkat. Kami yang diingapi kepala gengsi, hanya menunggu waktu yang tepat dari semesta untuk kembali saling mempertemukan. Pertanyaan perihal apakah hanya aku yang ingin kami kembali bersama, pertanyaan apakah hanya aku yang selalu menungu pertemuan itu, selalu datang berkali-kali. Pertanyaan yang membuat goyah harapan juga terkadang menghapus sedikit banyaknya perasaan.  Bagaimana denganmu? apakah aku boleh mengetahui isi hatimu? apa benar selama ini hanya aku yang berharap kembalinya kita? Beberapa kali di berbagai kesempatan, aku selalu ingin mempertanyakan hal itu. Namun sayangnya kepala gengsi ini suli...

Life is Choice.

Jangan salahkan saya atas apapun pilihan saya. Jangan bertingkah seakan kamu mengetahui apa yang terjadi dalam hidup saya. Saya menyesal atas apa yang sudah saya pilih, dan itu pilihan saya. Jangan datang lalu mengomentari pilhan saya yang anda kira itu tidak benar, menurut anda seharusnya saya melakukan hal a, tapi saya memilih b, dan pada akhirnya saya menyesali pilihan saya. Apakah saya marah? Jelas iya. Saya sesekali menyalahkan diri saya, tapi saya tidak ingin orang lain menyalahkan saya atas pilihan saya sendiri. Bukankah komentar anda terlambat? Bukankah komentar itu keluar setelah saya melakukan kesalahan? Bagaimana dengan sebelumnya? Dimana anda ketika saya ketakutan menjalani hidup ini? Dimana anda ketika saya merengek kesakitan, menahan sesak, dimana anda ketika saya butuh arahan dalam hidup yang kacau balau ini? Sekarang, saya berdiri di atas pilihan saya. Saya sesekali menyesali pilihan saya, tapi saya selalu ingin tetap baik baik saja dan selalu percaya bahwa saya...